Menakar Kembali Ujian Nasional; Ujian Guru atau Ujian Siswa?

smansalolak.sch.id – Sejak didirikan Oleh Sang Maha Guru Pendidikan Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara, wajah pendidikan Indonesia mengalami perkembangan. Walaupun hanya sebatas Taman Siswa, tetapi hal ini merupakan cikal bakal pendidikan di Indonesia dan kemudian bermetamorfosis menjadi lembaga-lembaga sekolah secara Formal, baik sekolah yang didirikan oleh pemerintah dengan gelar sekolah Negeri, maupun yang didirikan oleh Individu atau kelompok dengan mengatasnamakan Yayasan dengan label Sekolah Swasta.

Bisnis pendidikan di Indonesia merupakan bisnis yang sangat menggiurkan dan menjanjikan dengan keuntungan yang sangat besar dengan budget yang tidak sedikit. Tarif atau iuran yang ditetapkan oleh sekolah tertentu tidaklah murah. Mulai dari lembaga sekolah yang bernama PAUD/TK (dan sejenisnya) sampai pada tingkatan Perguruan Tinggi, dengan dalih peningkatan mutu pendidikan. Sehingga muncullah istilah di masyarakat bahwa “Pendidikan itu Mahal”.

Tidaklah mengherankan kalau antara lembaga sekolah, baik itu sekolah Negeri maupun Swasta, setiap tahunnya melakukan promosi-promosi lewat media massa maupun media online, bak iklan penjual obat, untuk menarik simpati para calon anak didik dengan menampilkan kehebatan maupun kecanggihan teknologi yang digunakan oleh sekolah masing-masing, dengan dalih Sekolah modern dengan fasilitas modern agar mendapatkan banyak siswa untuk masuk di sekolah tersebut.

Dalam perjalanan sejarahnya, Ujian Nasional (UN) awalnya bernama Ujian Negara Tahun 1965-1971, Ujian Sekolah Tahun 1972-1979, Evaluasi Belajar tahap Akhir nasional (EBTANAS) Tahun 1980-2002, Ujian Akhir Nasional (UAN) Tahun 2003-2004, kemudian berubah menjadi Ujian Nasional (UN) Tahun 2005-sekarang. Meskipun sering ganti nama/istilah tetapi proses dan model pelaksanaannya tetap sama dan diselenggarakan serentak oleh sekolah diseluruh pelosok Indonesia.

Ujian Nasional yang dianggap sebagai ritual tahunan menjadi hantu bagi para siswa dan guru disetiap institusi pendidikan Formal, karena hal ini masih dianggap sebagai ukuran keberhasilan dan kesuksesan pendidikan di Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kegiatan-kegiatan Zikir dan Istighosah akbar yang diselenggarakan oleh setiap institusi pendidikan yang ada di Indonesia.

Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah Apakah Ujian Nasional itu?, Apa Manfaat Ujian Nasional?, Mengapa harus ada Ujian Nasional? Kemudian menjelma menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Efek ini tidak hanya dirasakan oleh Siswa dan Guru tetapi termasuk orang tua siswa yang menyekolahkan anaknya dengan sangat susah payah.

Pengalaman saya di tahun 2003, sempat menyaksikan kejadian yang sangat tidak wajar di sekolah. Waktu itu Ujian Nasional SMA dan saya masih Kelas 1 (istilah skarang Kelas 10). Saat itu Ujian Nasional untuk hari pertama adalah Mata Pelajaran Matematika, kejadian aneh terjadi di Kelas IPA (katanya jurusan hebat) dimana ada seorang siswa jadi gemetaran dan pingsan ketika membuka naskah soal Ujian Nasional.

Muncul berbagai macam pertanyaan penasaran dipikiran saya pada saat itu, apa sih yang membuat siswa tersebut jadi pingsan?,se ekstrim itukah dampak Ujian Nasional?. Tanggapan dari guru beragam dari kejadian tersebut, ada yang mengatakan bahwa siswa tersebut ketakutan, anehnya ada guru yang beranggapan bahwa siswa tersebut tidak melakukan ritual haroa (baca sesajen) untuk menghadapi Ujian Nasional, kembali saya begumam dalam hati “separah itukah ketakutan siswa dan guru dalam menghadapai Ujian Nasional?”

Dalam pelaksanaannya, menurut hemat penulis, proses Ujian Nasional merupakan sesuatu yang sangat kontroversi dalam proses pelaksanaannya. Hal ini dapat dilihat dalam pelaksanaan setiap tahunnya dimana pemerintah setiap tahun sangat akrab dalam mengeluarkan statmen di media bahwa “hasil Ujian Nasional Tahun ini ‘Murni’ kerja dari siswa dan tidak ada campur tangan dari pihak luar”. Tahu dari mana? Wong soal saja yang dikirim dari percetakan pemerintah langsung ke sekolah tidurnya sampai 3 hari di sekolah dan dijaga oleh oknum guru dalam bentuk piket. Kalaupun soal dikirim di Polsek setempat tetap ada Guru yang dilibatkan untuk menjaga naskah soal tersebut. Anehnya hasil Lembaran Jawaban Komputer (LJK) Ujian Nasional masih juga tidur selama 3 hari di sekolah. Nanti selesai seluruh rangkaian Ujian Nasional kemudian diantar langsung ke Dinas atau Universitas yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan terkait.

Berbagai kecurigaan pasti muncul termasuk penulis. Apakah benar hasil ujiannya betul-betul murni tanpa ada campur tangan dari pihak luar?. Ataukah statemen diatas benar karena yang ujian langsung adalah siswa yang bersangkutan bukan orang luar? Lantas mengapa sebelum pelaksanaan Ujian Nasional banyak dihebohkan dengan bermunculannya SMS (pesan singkat) yang berisikan kunci jawaban soal UN dan memang jawabannya tidak ada yang meleset dari soal yang dikerjakan oleh siswa?. Dari mana jawabannya dan siapa yang mengerjakannya? Adakah oknum guru yang bermain dibalik UN ini? Inilah sekelumit atau potret wajah Ujian Nasional (UN) di Indonesia saat ini.

Tidak dapat dipungkiri bahwa harapan setiap Guru untuk kelulusan siswanya sangat besar dengan dibuatnya pengayaan-pengayaan untuk mendaras soal-soal Ujian Nasional di tahun-tahun sebelumnya. Berbagai trik maupun strategi menjawab soal UN di praktekkan oleh sang Guru didepan siswa bagaikan tukang sulap dan pemain akrobat (meminjam istilah Iwan Fals). Namun lagi-lagi kegelisahan para Guru mencapai puncaknya pada saat hari pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Sehingga kecurangan pun terjadi yang dilakukan oleh beberapa oknum guru, dengan cara mencari strategi untuk menembus pertahanan Pengawas Ujian Nasional yang ada di ruangan Ujian agar kunci jawaban dapat sampai ke tangan peserta Ujian. Lantas apa gunanya pengayaan-pengayaan yang sebelumnya dilakukan?

Dapat dikatakan, bahwa guru tidak menanamkan rasa kepercayaan diri kepada siswa, meragukan kemampuan siswa dan guru mengalami degradasi kepercayaan terhadap siswa termasuk meragukan kemampuannya sendiri dalam mengajar siswa. Sehingga setiap tahunnya ada rasa ketergantungan siswa terhadap Guru dalam mengerjakan soal-soal Ujian Nasional, dan tidak ada lagi usaha siswa untuk belajar dalam menghadapi Ujian Nasional. Sehingga muncullah stigma negatif terkait Ujian Nasional, bahwa Ujian Nasional adalah ‘Ujian bagi Guru’ secara nasional dan siswa hanya sebagai perantara. Lulusnya siswa adalah prestasi guru, tidak lulusnya siswa menimbulkan stigma buruk bagi Guru dan sekolah yang bersangkutan. Sehingga konsep “pendidikan yang membebaskan” ala Freire tidak pernah terwujud.

Pemerintah harus terus bergeliat membenahi sistem Ujian Nasional di Indonesia agar nilai pendidikan kembali pada rohnya yaitu memanusiakan manusia dan mampu mencerdaskan bangsa sesuai dengan amanah UUD 1945, serta dapat melahirkan generasi muda yang berperadaban. Negara bisa maju apabila sistem pendidikan menjadi maju, karena suplai terbesar pemimpin Indonesia berasal dari bangku pendidikan. Semoga.

Oleh: La Fendi

—-Penulis adalah Manusia biasa—

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *