Guru Sebagai Peluru Peradaban

Sejarah dibomnya 2 kota besar di Jepang yaitu Hiroshima dan Nagasaki yang dilakukan oleh Amerika Serikat tahun 1945 membuat Jepang bertekuk lutut  dan menyatakan menyerah pada Amerika Serikat. Jepang yang dipimpin oleh Kaisar Hirohito langsung membuat telegram kepada seluruh tentara-tentara jepang yang berada diseluruh daerah jajahan Jepang untuk meletakkan senjata sebagai tanda menyerah kepada Amerika Serikat. Hal yang paling menarik dalam sejarah ini adalah pernyataan Kaisar Hirohito yang mengatakan “Masih adakah Guru yang tersisa?”.

Istilah “Pahlawan tanpa Tanda Jasa” telah lama melekat pada Guru, istilah ini sarat dengan makna karena peran guru yang sangat begitu penting sebagai martir untuk kemajuan bangsa dalam mengkader dan mencerdaskan anak bangsa yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin dimasa depan. Guru adalah pembawa obor peradaban bagi generasi bangsa selanjutnya, baik buruknya generasi bangsa terletak dari peran Guru yang selalu tak henti-hentinya memberikan pencerahan dalam bentuk transformasi keilmuan dengan cita-cita agar generasi yang di kadernya mampu menjadi manusia yang berguna bagi dirinya, keluarga dan bangsanya.

“Aku Menjadi Guru maka aku Ada” (plesetan istilah Rene Der Cartes), kalimat ini sangat cocok dan pantas di tujukan kepada para guru serta kebanggaan yang patut dibanggakan untuk peran guru. Keikhlasan yang selalu terpatri didalam sanubari setiap guru dalam memberikan penyadaran, pendidikan kepada anak didik dengan jiwa memanusiakan manusia tidaklah muda dilakukan bagi setiap orang. Penyadaran yang dilakukan guru kepada generasi bangsa bukanlah penyadaran atas dasar kesadaran semu tetapi sebuah cita-cita yang terbangun dan lahir dari seruan nurani yang berlandaskan keikhlasan dengan misi keumatan untuk mengubah karakter bangsa yang dianggap masih terpuruk dan terbelakang lewat pemikiran-pemikiran cerdas mereka agar bangsa ini bisa tampil sebagai bangsa yang berwibawa dan bermartabat.

“Sebagai pelita dalam kegelapan”, guru ibarat pelita yang menyala dalam kegelapan dengan cahaya keilmunnya mampu mengisi ruang-ruang kosong pemikiran para anak didik bangsa agar kelak menjadi insan yang berguna dan mampu bersaing dengan kerasnya kehidupan yang serba modern. Peran guru tidaklah semudah yang dibayangkan oleh setiap orang, menjadi guru adalah amanah yang sangat mulia dan dimuliakan oleh Tuhan karena kemuliaanlah yang hanya mampu menempatkan guru pada strata dan tingkatan mulia.

 “Guru bisa menjadi anggota Dewan (DPR, DPRD) tetapi Anggota Dewan tidak mampu menjadi Guru”, iya, sepakat dengan kalimat ini. Guru adalah manusia yang multi fungsi, peranannya sangat dibutuhkan dimasyarakat, Guru lah yang hidupnya berbaur dan menyatu dengan masyarakat sehingga kehadiran guru dimasyarakat sangatlah dibutuhkan baik dalam mengeluarkan ide maupun gagasan untuk merubah pola pikir serta kondisi kehidupan masyarakat kerah yang lebih dinamis.

“Guruku adalah malaikatku”, bukan melebih-lebihkan eksistensi guru tetapi memang layak guru dikatakan demikian namun bukan pengertian secara tekstual bahwa guru adalah malaikat,tapi dari sisi lain peran guru tidak bisa dinilai oleh rupiah (Anies Baswedan). Menyadarkan generasi muda Indonesia adalah niat Guru yang tidak dapat ditukar dengan materi, keikhlasan tidak dapat digadaikan dengan apapun, sehingga suatu hal yang sangat wajar apabila guru harus mendapatkan gelar-gelar kebaikan, penghargaan-penghargaan maupun lencana-lencana atas pengabdian mereka kepada bangsa yang kita cintai ini.

Semoga guru tetap jaya dan menjadi garda terdepan dalam membina dan mendidik generasi muda bangsa sebagai fondasi untuk memajukan bangsa Indonesia agar bangsa ini memiliki wibawa dimata dunia. #SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL

 

Oleh La Fendi Tulusa

Penulis Adalah Umar Bakri di Bolaang Mongondow

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *