Nilai-Nilai ANEKA Pada Diklat Prajabatan; Idealisme Yang Dilematis Bagi ASN

Secara historis Indonesia dibangun secara merdeka berkat perjuangan rakyat Indonesia yang di motori oleh tokoh-tokoh Nasional, tak bisa dipungkiri sang proklamator sekaliber SOEKARNO mampu membuka mata dunia ketika Indonesia mampu menyelenggarakan pesta olahraga dunia yang dipusatkan di Jakarta yang dikenal dengan GANEFO, Indonesia saat itu naik daun walaupun setelah Ganefo selesai, kas Negara menjadi kosong alias Nihil. Soekarno sebagai presiden pertama Indonesia mampu keluar dari krisis tersebut tanpa harus mengemis dan mengutang ke Negara lain. Yang menjadi pertanyaan besar pada kita sebagai generasi bangsa adalah Apakah kita mampu keluar dari lilitan utang luar negeri yang semakin hari semakin membengkak dan Negara bisa terbebas dari gurita Korupsi??

Sekarang jamannya REVOLUSI MENTAL tapi antara ilusi dan fakta, idiom ini mencuat sejak Bapak Jokowi mencalonkan diri sebagai Presiden RI dan sangat laku sampai sekarang. Mulai dari politik, sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan semuanya di REVOLUSI secara MENTAL. Semua penyelenggara Negara mulai dari pusat sampai ketingkatan daerah berseliweran tulisan di spanduk tentang Revolusi Mental dan Ayo Kerja, mentalnya siapa yang harus di revolusi, apa yang harus dikerja??, berangkat dari kata “REVOLUSI” sifatnya tidak main-main karena kata ini memiliki makna merubah secara totalitas system yang ada dengan waktu yang cepat dan tepat, dimana sistem yang sebelumnya tidak lagi digunakan dan menggunakan system dengan gaya baru atau kita memulai dari awal alias start NOL. Indonesia merdeka sudah 70 Tahun, apakah kita memulai membangun harus dari awal kembali??, bagi saya tidak, karena melihat dari sistem yang berlaku sebelumnya (Orde Baru) sampai sekarang masih digunakan adapun kalau berubah sifatnya hanya revisi doang.

Setiap warga Negara ketika menjadi penyelenggara Negara atau masuk dalam system Negara dalam hal ini adalah PNS (Pegawai Negeri Sipil) maka wajib mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT) yang diselenggarakan oleh Negara. Dalam pelaksanaannnya, katanya berbeda dengan Diklat sebelumnya, kalau Diklat sebelumnya hanya sebatas menerima materi dalam waktu yang cukup singkat (2 minggu) kemudian dianggap selesai, sekarang dengan adanya Revolusi Mental maka system Diklatnya berubah dengan menerima materi dengan waktu yang lumayan lama (18 hari) dan magang lapangan (13 hari).

Revolusi Mental yang dibangun pada Diklat sekarang ini sangatlah menarik dengan materi diklat bersifat ANEKA(Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan AntiKorupsi). Bagi saya sebagai penulis sangat merasa bangga dengan materi ini, karena ingin merubah bangsa Indonesia kearah yang lebih baik walaupun sifatnya doctrinal. Misalkan kita mendaras tentang Anti Korupsi, materi ini sangatlah penting karena bersentuhan langsung dengan isu-isu yang berkembang sekarang terkait dengan keterlibatan petinggi-petinggi Negara dalam hal melakukan korupsi. Sebagai penulis saya menjadi ragu karena nilai-nilai ANEKA ini hanya sebatas materi di ruangan tetapi fakta dilapangan pasti akan berbeda. Ada yang berceloteh bahwa ketika masuk dalam system idealisme pasti terkikis, dalam hati saya bergumam “kenapa ada bahasa seperti ini, padahal diklat yang kami ikuti ini adalah nilai-nilai idealisme dan kami disini jelas-jelas diajarkan menjadi idealis oleh pemateri”, lucunya celoteh ini diucapkan langsung oleh si pemateri, dalam hati kembali bergumam “boleh jadi pemateri menjilat ludahnya sendiri”

Praktek dilapangan tak sedinamis menerima materi diruangan diklat, kita bisa lihat fakta dilapangan, banyaknya oknum-oknum nakal penyelenggara Negara yang masih menggunakan tangan-tangan kotor sehingga mengganggu kemajuan daerah dan Negara. Fakta ini tidak dapat dipungkiri dan banyak dilakukan oleh pihak atasan, yang jadi pertanyaan kita sebagai bawahan adalah kita mengikuti system yang dibentuk oleh Negara dengan system yang begitu baik atau mengikuti atasan dengan kebijakannya menabrak system?? Sangat dilematis dan sulit dijawab.

ANEKA dalam pemahamannya secara menyeluruh menjadikan penyelenggara Negara bekerja lebih professional dalam mengurus Negara. Nilai-nilai yang dibangun dalam ANEKA termasuk misi keumatan dalam melayani masyarakat sehingga penyelenggara Negara harus siap menjadi martir dalam melakukan perubahan bangsa kearah yang lebih baik.

La Fendi, S.Pd

Penulis adalah Peserta Diklat Prajabatan Kabupaten Bolaang Mongondow Tahun 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *